Rabu, 16 April 2014

Wisata Belanja Versi Anak Muda Aceh



Saat pertama kali ingin menuliskan blog mengenai wisata belanja, saya menjadi galau sendiri. Bagaimana tidak, membaca satu kata “belanja” saja, pikiran saya sudah menerawang ke mana-mana. Berikut serentetan kalimat yang muncul di benak saya seketika membayangkan kata belanja.

Belanja itu = uang keluar. Alias, sebuah kegiatan yang membuat seseorang senang di awal, namun bokek kemudian. Dengan kata lain, jika tak kaya, jangan coba-coba. Jika tak ingin menderita akhir bulannya.
(Diiringi backsound serial killer).

Sesaat kemudian, saya tersadar ternyata topiknya tulisannya itu bukan tentang belanja saja, namun lebih tepatnya merupakan gabungan dua kata yakni wisata dan belanja. Tanpa kendali, imajinasi saya kembali menari-nari. Kira-kira begini logika yang muncul.

Wisata itu bisa diartikan jalan-jalan atau mengunjungi suatu tempat yang baru untuk bersenang-senang. Belanja itu adalah suatu aktifitas mengeluarkan uang atau alat pembayarayang sejenisnya untuk membayar barang atau jasa. Ringkasnya, wisata+belanja = jalan-jalan sambil menghambur-hamburkan harta pusaka yang ada. Oh tidak! Bisa dikutuk tujuh turunan saya.
(Mulai kumat lebaynya).

Baiklah, mari kita lanjutkan. Saat kalimat-kalimat unik semacam itu terlintas dengan cepat di pikiran saya, rasa penasaran saya kembali bergejolak. Kira-kira, apa yang bakalan terlintas di pikiran orang-orang tentang wisata belanja ya? Mengapa tidak saya cari tahu? Aha, fantastis, seketika saya dapat menemukan ide tulisan yang cukup keren untuk disajikan kepada para pembaca. Wah, senangnya.

Nah, cerita punya cerita, ise-ise punya rencana, akhirnya saya memutuskan suatu perkara yang luar biasa. (Hedeh, mau bilang “planning” aja ribet amat nie orang). Saya mencoba mengadakan survey dadakan mengenai apa sih yang terlintas di pikiran orang-orang, khususnya para anak muda Aceh, tentang wisata belanja di Banda Aceh. Dengan menggunakan metode random sampling, memilih secara acak teman-teman yang sedang online di facebook, dengan serta merta akhirnya saya berhasil mengajak beberapa orang dari mereka untuk ikut mengkontribusikan pemikirannya mengenai topik wisata belanja ini.
(Ya ampun, bilang “ngajakin chating” aja, penjelasannya panjang nauzubillah).

Akhirnya, saya berhasil menghimpun lebih kurang 15 orang responden yang masih bisa disebut anak muda, ya minimal sebut saja masih berjiwa mudalah, dengan latar belakang, jenis kelamin, profesi, dan kegemaran yang berbeda. Nah... orang-orang ini bukanlah sembarang orang. Mereka adalah orang-orang yang baik hati, tidak sombong, punya wawasan yang luas, senang berbagi informasi, rajin berdiskusi, rajin memberi solusi dan juga rajin online tentunya. Canda.
(Ya, minimal di hari saat saya wawancarai. Kalau gak online, gimana mau diwawancarai. Ya kan, ya donk. Bener kan, bener donk).

Ternyata, diluar dugaan, respon yang diberikan oleh teman-teman bermacam ragam. Dari yang jawabannya serius abis, sampai yang jawabannya lawak tenan. Dari yang menjawab pakai rasa-rasa, sampai yang menjawab pakai analisa. Dari yang bergaya logis, sampai dramatis. Nah... penasaran? Sama, saya juga.
(Waspadalah, penulis blog ini korban iklan).

Berikut saya sajikan beberapa pertanyaan seputar “wisata belanja” beserta dengan respon dari para responden survey dadakan via online suka-suka saya. Oh ya, sekilas info, sebahagian nama responden tertera, yang berati mereka bersedia jika nama mereka disebutkan di dalam tulisan ini. Namun ada pula responden, yang tidak ingin namanya dipublikasikan, maka untuk menjaga privasi dan kenyamanan mereka, nama-nama responden tersebut saya gantikan dengan inisial saja. 
(Kata dosen aye, itu kode etik penelitian namanya).

Wokeh, kita langsung lanjutkan saja ya. Berikut ini saya sajikan hasil survey online suka-suka saya mengenai pendapat anak muda Aceh tentang wisata belanja di Banda Aceh. Penasaran? Sama, saya juga. Ayo, kita intip sama-sama.

***


# Wisata Belanja, apaan sih?

http://www.tnooz.com

1. Apa yang pertama kali terlintas di pikiran rakan-rakan ketika saya menyebutkan kata "belanja"? Atau, apa yang rakan-rakan rasakan ketika ada yang mengajak pergi berbelanja?

[Ikhsan-Mahasiswa]: "Belanja itu identik dengan pasar. Pasti lama, muter-muter, becek, bau.”
Komentator: Waduh, ngapain muter-muter sih bro, tawaf kok di pasar?

[Niken Astri-Talent ]: Belaja itu identik dengan “pasar, ngilangin stress.”
Komentator: Kalo gua mah, nambah stress. Kumatnya sih abis belanja gitu. Hohoho... Sekilas info: ini Niken KDI, penyanyi berbakat asal Aceh itu lho.

[Rikki-Web Programmar]: Belanja itu “pastinya mengeluarkan uang.”
Komentator: Wah... kagak bro... maksudnya kagak salah lagi. Kembali sekilas info: ini dia programmar yang membangun website untuk komunitas LTF lho.

[Rahmi-Mahasiswi Program Magister]: Belanja itu ” uang, minimal hrus ada uang buat bl minum kalo udah cpek muter2..hehhe.”
Komentator: Ternyata rame juga yang suka muter-muter pasar. Hmm... simulasi sebelum naik haji kali ya? Peace. Kembali sekilas info: Beliau saya wawancarai saat berada di Malaysia lho, melalui Facebook tapi (gagal dramatis).

[WS- Mahasiswi yang tidak suka statistika]: Belanja? “Kalo kami sih kak, gak terlalu tertarik. Apalagi kalo kondisi keuangan lagi seret.”
Komentator: Gimana kalo keuangannya ngesot dek? Hedeh... bisa-bisa belanja tinggal kenangan. Oh ya, lagi-lagi, sekilas info: jika rakan-rakan penasaran mengapa keterangan nama sang responden panjang gitu? Jawabannya karena permintaan. Jel?

[Sri- Karyawati]: Belanja itu “cuci mataaaaaaaaaa hasek.”
Komentator: Jiakkk... bus**  (Jujur amat ni orang!)

[HIJ- Karyawan]: “Pikiran bagi kami cowok, kalo istri ajak belanja, ka peng tubit lom, siat at blo baje baro.”
Komentator: Yaelah bro, terima aja. Selagi ada kesempatan. Sayang istri, mudah rejeki. Haseekkkk).

[Muziburrahman-Konsultan]: Belanja itu “pengeluaran.”
Komentator: Tapi kalau orang pada permisi ke kamar mandi, kok gak pernah nyebutin mau belanja sih bro? (Berpikir keras).

[IBH-Penggiat Seni dan Penulis]: “Belanja adalah ritual moderen bagi kaum urban yang dalam level ekonomi rata2 menengah ke atas. mendengar kata belanja bagi mereka yang sama sekali tidak lebih secara ekonomi adalah belanja semacam peralatan dapur semata. karena belanja versi kaum urban yang lebih secara materi adalah lebih sebgai gengsi semata. bukan pada titik untuk bernilai guna. belanja menjadi gaya hidup. bagi saya pribadi, belnja adalah membeli barang bernilai guna. bukan bernilai gengsi.”
Komentator: (Jelep... buka google translate dan kamus oxford ---  penulis blog ini salah gaul).


2. Baiklah, selanjutnya menurut rakan-rakan, wisata belanja itu apa sih? Apakah sama seperti belanja biasa atau justru ada yang berbeda?

[Ikhsan-Mahasiswa]: Wisata belanja itu belanja “ dari satu pasar ke pasar lain. ex: pasar ule kareng, lanjut ke pasar peunayong, lanjut ke pasar lambaro. Kegiatannya ya sama saja, pegang kantong belanjaan, ngekor kemana momi pergi, jadi supir.”

[Niken Astri-Talent]: Wisata belanja “ sama lah.. belanja.. pasti ada yg dibeli utk dikonsumsi.. tp mungkin lbh bnyk yg spesial kali yaa.. misalnya khas-khas aceh yg tidak ditemukan di daerah lain.”
Komentator: Kayak tulisan aku donk, khas dan gak ada duanya gitu. Kipas-kipas diri pakek kipas sate.

[Noka-Mahasiswi]: “Wisata belanja tu.. kegiatan berwisata ke tmpat jualann.. yg serba ada... kegiatann wiasta'a.. belanja belanja aja.. Kalo belanja biasa.. beli brang ug udah d rncanakan terlbih dahulu mngkin.. tapi kalo wisata blanja.. beli suatu brang tu gk da rencana.. pas ada yg mnarik beli.”
Komentator: Kalau pedagangnya menarik? Dibeli juga dek? (gubrak).

[Rikki-Web Programmar]: “Wisata belanja terdengar seperti berbelanja namun tidak hanya pada satu tempat,, yaa example : wisata kuliner."
Komentator: Logika programmer banget sih. Jika A maka B. Jika wisata kuliner = makan dibanyak tempat maka wisata belanja = belanja di banyak tempat. Super!

Rahmi-Mahasiswi Program Magister]: “Ya mkna lain, yang namanya wisata psti special. Gt jg dgn wisata blnja. Beda dong wisata blnja dgan skedar beli telor di warung dekat rumah. heheh... Kalau esensi yang membedakan belanja dengan wisata belanja sepertinya hanya di taste n imajinasi mngkin kalo kita prtekkan sama, tp kalo dibayangin jlas beda.”

[Sri- Karyawati]: Wisata belanja “klo sri pribadi ngedengarnya pasti akan dihidangkan dengan karya2 anak negri neh. plus d ajak langsung k t4 produksi.”
Komentator: Keren! Setuju pakek banget.

[Farhani-Pemenang ONMIPA]: “Wisata belanja bagi saya belanja yang tidak hanya mengenai memenuhi kebutuhan belaka (terkadang yang diblnjakn bukan kebuthan). Tetapi ttg mencari kesenangan dari kegiatan belanja tersebut.”
Komentator: Hati senang walaupun gak punya uang ooo.

[MI- Mahasiswa kandidat PIMNAS]: “Belanja tu untuk kebutuhan, sedangkan wisata belanja untuk keinginan.”
Komentator: Mantap!

[IBH-Penggiat Seni dan Penulis]: “Wisata belanja adalah transormasi makna belanja agar kedengaran lebih bersahabat. kelihatan murah dan santun dalam mengiklankan barang. penggabungan antara nilai wisata dalam belanja hanya untuk mendongkrak penjualan semata.”
Komentator: Pecitraan dalam pedagangan. Wow, saing-saingan sama para caleg donk.
***

Baiklah rakan-rakan, kita sama-sama sudah melihat beragam definisi dari para respoden survey online suka-suka saya. Cukup asik untuk dibaca ya kan? Disadari atau tidak, padahal sekian banyak pendapat yang dicurahkan tadi itu hanya berasal dari deskripsi “wisata” dan “belanja” lho. Nah... bagi rakan-rakan yang mempunyai definisi dengan versi unik dan berbeda, silakan ditulis dikomentar blog ini ya. Pastinya bakalan makin seru.

Selanjutnya, terlepas dari segala jenis definisi di atas, jika kita merujuk ke situs online Kamus Besar Bahasa Indonesia, kita dapat menemukan bahwa kata wisata itu berasal dari kata benda yang artinya berpergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan dan bersenang-senang, dsb); tamasya. Selanjutnya, menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata.

Dalam sebuah blog travelling yang juga membahas tentang wisata belanja disebutkan bahwa wisata belanja adalah merupakan suatu aktifitas wisata dengan mengunjungi daerah tertentu yang menyediakan berbagai barang atau jasa untuk dibeli. Ok, saya ulangi, wisata belanja = berkunjung+barang/jasa+beli. Wah, simpel sekali ternyata definisi dari wisata belanja ya rakan-rakan?
***

# Efek Positif dan Negatif Wisata Belanja

dreamstime.com


3. Menurut rakan-rakan, apa sih efek positif dan negatif dari wisata belanja?

[Noka-Mahasiswi]: “Koc efek positif'a kita senang pasti'a blanja brang2 yg mnarik mnurut kita... tpi negatif'a menguras isi dompet.”
Komentator: Iyaaakkkk.... saing-saingan sama bak mandi donk.

[Rikki- Web Programmar]: “Positif-a,, menambah wawasan atas apa yg kita lihat dan kita belanja,, karena produk tiap daerah berbeda meski 2014 ini sudah tren dengan export import namun jangan khawatir,, pasti produsen tetap utamakan produk lokal,, nah,, untuk negatif-a mungkin ya itu,, butuh dana untuk itu smua,, meski berwisata hanya lihat2 saja dengan berbelanja alakadar si kantong,, hohohoho.”
Komentator: Saya sih gak mikirin kantong, yang penting isi dompetnya bro. Lho, sama aja kali ya (garing).

[WS- Mahasiswi yang tidak suka statistika]: ”Efek positif: sarana refreshing, efek negatif: kantong kering.”
Komentator: (Terkesiap, seakan tak mampu menerima pahitnya kenyataan hidup. Lebaynya kumat lagi).

[Sri- Karyawati]: “Efek positiv lebih tau krya yg kental d daerah itu, mutunya bs lebih terjamin, investasi, peluang cinta produk rumah sendiri, ajang perantara promosi daerah sendiri. Negatif ummmmmmmm kalo kebanyakan beli ya bokek deehh,, jadi lbh enak@ d guide utk bs nyaranin wisata belanja yg baik.”
Komentator: Guide untuk wisata belanja? Hmmm... Ide yang menarik.

[MI-Mahasiswa kandidat PIMNAS]: "Positif : ekonomi kreatif semakin meningkat. Negatif : terjadi kesenjangan sosial antara yang mampu sama yang gak."
Komentator: Bisa jadi, bisa jadi.

[Muziburrahman-Konsultan]:"Wisata belanja sebetulnya turut berkontribusi menyehatkan tubuh, apa lg jika dilakukan sambil jalan kaki. Namun negatifnya dpt membentuk budaya konsumtif."
Komentator: Belanja ke pasar sambil dengerin musik “Lari Pagi” karya H.Rhoma Irama. Iyaaakkkk).

***

# Wisata Belanja Ideal

4. Menurut rakan-rakan, wisata belanja ideal itu seperti apa? (Boleh ditinjau dari suasana, tempat, barang yang diperdagangkan, dan sebagainya).

[Ikhsan-Mahasiswa]: Wisata belanja yang ideal itu ketika “pergi ke pasar sama istri.”
Komentator: Jangan kentara kali lah bro masih ngejomblo. Peace!

[Niken Astri-Talent]: “Yg paling utma tempatnya bersih dan gak keganggu dengan pengemis. Sorry bukan ga suka pengemis. Tapi, itu buat wisatawan ga nyaman. Lbh ke image daerahnya sih.”

[Noka-Mahasiswi]: “Wisata belanja ideal... koctmpat'a tu barang'a serba ada.. unik unik.. teros tmpat'a rame di kunjungi orang...suasana'a rame orang yang berbelanja disitu... tross harga'a bisa tawar menawar.”
Komentator: Wokeh!

[Rikki- Web Programmar]: “Yaaa klu riki sii,, berwisata sii bole saja,, namun,, belanjalah seperlunya saja,, kebutuhan premier. Toh pada wisata belanja juga terdapat barang kebutuhan premier. Bagi riki wisata tu hanya untuk menambah ruang lingkup wawasan,, dan sampingan-a adalah belanja.”
Komentator: Bijak sekali, pasti sehari-harinya lebih sering makan garam dibandingkan nasi. Peace!

[Rahmi-Mahasiswi Program Magister]: “Suasana@ ramah baik pmbeli maupn pnjual, tempatnya adem atau stidaknya bukan dibwh mtahari lngsung, bs aja di daaerh prpohonan...yg pasti hrganya murah n kualitas bgus.”
Komentator: (Catat).

[WS-Mahasiswi yang tidak suka statistika]: “kalo tempat nya harus yang mudah dijangkau (ada transportasi yang menjangkau lokasi) suasananya harus bersih, nyaman, penjualnya ramah, dan keamanan paling penting.”

[SD-Pengajar]: “tempatnya yg nyaman...ada fasilitas ibadah yang sgt memadai & toilet yg sanitasinya baik.
Komentator: Asli... toiletnya... pak, tolong ya pak, tolong.

[HIJ- Karyawan]: “kalau bisa wisata belanja cocoknya di tempatkan di tempat wisata alam, sekalian menjual kreatifitas daerah, jadi disitu terdapat 2 kepuasan, pertama kepuasan dalam belanja, kedua kepuasan karna bisa rekreasi.”
Komentator: Kepuasan lahir batin gitu ya bro?

[MI- Mahasiswa Kandidat PIMNAS]: “Wisata belanja tu bagusnya diisi sama produk2 dalam negeri aja, ditempat2 wisata gitu. kenapa produk lokal, karna lebih murah, kenapa tempat wisata karna biar kesenjangan sosial semakin kecil.”
Komentator: Setuju. Ngaku diri orang Aceh? Kreatif donk.

[IBH-Penggiat Seni dan Penulis]: “Sya kira, pengelola wisata tahu benar bahwa wisata belanja itu yang dijual hasil kreatifitas rakyat. yang melahirkan produksi tidak secara massal layaknya produk yang dimodali secara mapan. sekarang yang terjadi malah, dengan wisata belanja malah membunuh produk masyarakt. karena produk masyarakt yang dihasilkan sedikit itu kalah dengan produk massal perusahaan.”
Komentator: Aaapa??? 

***

# Wisata Belanja di Banda Aceh

5. Menurut rakan-rakan, di manakah tempat yang telah layak atau akan menjadi layak dijadikan sebagai tempat wisata belanja?

[Ikhsan-Mahasiswa]: “Pasar Lambaro.”

Pasar Lambaro (acehtourismagency.blogspot.com)

Rahmi-Mahasiswi Program Magister]: “Kalo tdsional di peunayong.”

http://liza-fathia.com/peunayong-gampong-cina-di-tanoh-rencong/

[Sri-Karyawati]: “Di blang padang deh ato taman ratu safiatuddin, dua2nya dekat mesjid,, bisa sekalian dakwah.”

Gunongan di Taman Ratu Safiatuddin

[HIJ- Karyawan]: “Di ule lhe.”

Pantai Ulee Lheue (http://femaledaily.com/)

[Farhani-Mahasiswi ONMIPA]: “Pasar Aceh sebenarnya cukup layak, hanya perlu ditata lebih baik. Akan sangat baik, bila semua tempat wisata di Banda Aceh punya tempat belanja yang dekat dg lokasi, karena akan memudahkan wisatawan untuk berblanja.”
Pasar Aceh (inbandaaceh.com)

[MI-Mahasiswa kandidat PIMNAS]: “Taman sari sama putro phang, sampeng musium tsunami. Kenapa? Karena dekat sama pusat kota, kalo capek belanja bisa istirahat bentar dibawah2 pohon.”

http://bandaacehkotamadani.wordpress.com/2012/08/23/taman-sari-banda-aceh/
http://musikanegri.blogspot.com/2014/01/tempat-wisata-di-banda-aceh.html

[Muziburrahman-Konsultan]: “Kalo yg betul2 ideal sih gak ada, namun yg dpt dijadikan referensi ya pasar aceh jika unt fashion, peuniti unt handphone, peunayong unt pasar tradisional, pocut baren unt IT. Oh ya, simp mesra dan ulee lheu unt kuliner.”

[IBH-Penggiat Seni dan Penulis]: “Di banda aceh sudah banyak dibuat tempat belanja wisata tapi satupun tidak hidup selayaknya. Contoh misalkan, di ulele taman tepi laut itu, di ateuk pahlawan dll. semua mati sendiri. ini menandakan bahwa kelola wisata belanja masih cilet2. Malah, toko souvenir yang dikelola swasata yang memuncak. bahkan, merekalah yang menyerap hasil buah tangan masyarkat semisal rencong yang dibuat oleh masyarakat desa baet sibreh. Bisa dibayangkan gak? Seandainya perusahaan dari korea membangun pabrik pembuatan rencong di sibreh. Lalu, mereka memperkerjakan masyarakat d sana untuk kebutuhan wisata belanja. Yang di ulele itu mati sebelum bersemi. yang dekat kantor dinas pariwisata banda aceh itu. Solusinya, dekranas itu jangan egois dong. Mereka bagi itu modal yang selangit untuk UKM masyarakat. Mereka jadi marketing saja.”

Souvenir Rencong Aceh (http://img.youtube.com)

Nah... itulah sekilas pandang tentang seputar informasi wisata belanja di Banda Aceh. Demikianlah hasil ramuan survey online suka-suka saya yang sudah saya sajikan ke dalam tulisan blog ini. Semoga ada manfaatnya. Saya berharap, rakan-rakan semua dapat menikmati tulisan ini selayaknya menikmati kelezatan rujak Aceh. Sudah pada tahu rasa rujak Aceh gimana? udah pernah mencicipinya? Kalau belum, beli dunk, masa cuma ngeliuran doank di depan layar. Mari berkunjung ke Aceh. Nikmatilah anak muda, kesempatan untuk berwisata belanja di Banda Aceh, jangan lagi tunda-tunda. Segera!

Rujak Aceh (http://iloveaceh.tumblr.com/)

***


Catatan:
Alasan saya menuliskan tulisan ini:

Lukisan Kota Banda Aceh di Masa Silam

Pertama, sebagai hadiah bagi kota kami tercinta, Banda Aceh, yang akan mencapai umur ke-809 tahun pada tanggal 22 April 2014 ini. Semoga Allah memberkahi kota ini beserta penduduk di dalamnya. Aaamiin.....

Kedua,sebagai bukti bahwa menulis itu mudah dan nagih. Gak percaya? Coba deh cek lagi status-status kamu yang udah pada banjir di facebook atau twitter. Coba aja dirangkai menjadi tulisan yang lebih bermakna di blog-blog terdekat. Masalah hasil tulisan kita itu kurang keren, kurang mutu, kurang mantap (selama gak kurang ajar aja, hahaha...), itu semua mah urusan pembaca. Urusan kita ya nulis, itu aja kok repot. Namanya juga belajar.

Dan alasan ketiga tulisan ini dibuat adalah untuk ikut meramaikan dan menyemarakkan kompetisi blog Banda Aceh yang diselenggarakan oleh para blogger-blogger keren Aceh tentunya. Walau tulisan ini rada-rada nyampah gitu, kan gak apa-apa. Yang penting nimbrung dulu, ya gak? Siapa tau entar kecipratan keren plus ilmu dari teman-teman blogger lainnya, kan lumayan. Wokeh, sepertinya saya sudahi dulu tulisan ini sampai di sini ya. Terima kasih bagi rakan-rakan yang sudah bertandang ya. Ditunggu komentarnya. Wassalam.



Sabtu, 25 Januari 2014

Sejarah Kemunculan "Learning TOEFL for Free" di Aceh


Assalamu'alaikum wr.wb.
Wah... Apa kabar para wonderers? Sudah cukup lama kita tak lagi saling sapa.
Rindu? Itu pasti.
Nah... di tahun 2014 ini, ada kejadian seru bin lucu yang menimpa saya. 
Iseng-iseng punya nama, kali ini lagi-lagi serius kejadiannya.
Kisahnya kira-kira seperti ini.
Beberapa hari sebelumnya saya melihat kegalauan dan kerisauan yang dirasakan oleh teman-teman sekampus saya di MIPA Matematika, Unsyiah. Pasalnya, mereka mengabarkan bahwa permintaan nilai TOEFL terus meningkat seiring berjalannya waktu. Namun, sayangnya tak ada pelatihan ataupun fasilitas khusus dari pihak Universitas untuk membantu mereka. Lalu saya berinisiatif untuk membuat sebuah kelas pembelajaran TOEFL gratis di kampus tersebut. Mengingat seorang teman yang pernah berceloteh, "kami udah beberapa kali ikot tes TOEFL tapi gak lulus-lulus, kalo ayu enak ngerti TOEFL, kan anak Bahasa Inggris." Mengingat hal itu saya tersadar bahwa masih sangat banyak orang-orang di sekitar kita yang memerlukan dukungan dan bantuan kita. Mungkin benar, selama ini kita terlalu sibuk mengembangkan diri sehingga tidak peka dengan kondisi dan situasi yang sebenarnya.  

Gara-Gara "Status" Sosial Media

Ternyata kelas TOEFL dadakan bin modal keilmuan seadanya yang saya dirikan kala itu memancing krisak-krusuk teman-teman lainnya. Hal ini disebabkan karena saya hanya menerima 10 orang peserta didik kala itu sehingga banyak dari teman-teman lainnya menuai protes, walau dengan bahasa halus dan sopan, karen tidak dapat ikut serta belajar. 

Kala itu saya kembali tersadar, ternyata yang membutuhkan bantuan sangatlah banyak. Saya tidak mungkin bergerak sendiri. Dalam keadaan penuh dilema itu, tanpa berpikir panjang, maka saya melakukan sebuah kegiatan yang saya anggap biasa-biasa saja namun ternyata berefek diluar kebiasaan.

Kala itu tanggal 12 Januari 2014 yang lalu, melalui sebuah jejaring sosial, saya meng-update  status yang isinya seperti ini:



Maksud hati hanya ingin mengajak beberapa rakan sesama mahasiswa untuk menjadi sukarelawan mengajar TOEFL untuk beberapa kelas tambahan lainnya. Lingkup kita-kita aja. Ada dua-tiga kelas sudah memadailah, pikir saya saat itu.  Setelah meng-update status dan merespon beberapa komentar dari teman, tanpa ada firasat apa-apa dengan santainya saya menutup aplikasi jejaring sosial yang dinamakan facebook. Sudah malam, sudah saatnya istirahat.Namun ternyata, ada satu hal penting yang tidak saya sadari saat itu...... ada jemari yang sedang menari-nari menuliskan kisah perjalanan panjang ini.

Laskar "Pelongo"

Seperti biasa, keesokan paginya, tanpa firasat apa-apa, saya berangkat ke lab. untuk sekedar mencari bahan untuk skripsi saya. Begitulah nasib mahasiswa tingkat akhir. Tak berkelas, tak bertemu teman, tak berdosen, pokoknya serba tak, tak, tak,tak, tak, aku, tak mau, tak, tak, tak, tak, tak, aku, tak mau tak, kutak mau tak (semacam lagu bang Roma Irama). Baiklah, buka itu intinya.

Sesampai di lab, saya meluruskan niat untuk benar-benar mencari bahan kuliah. Seperti yang sama-sama kita ketahui, biasanya yang namanya mahasiswa jika sudah di depan laptop yang ada fasilitas internetnya walau mula-mula niatnya belajar, ujung-ujungnya, browsing hal-hal tidak penting, baca-baca status teman dan sebagainya dan sebagainya, lupa dah niat belajar tadi. Sudahlah, itu merupakan rahasia umum.

Nah, kembali ke kasus tadi. Untuk menghindari diri dari godaan internet yang ter*****, maka dari awal hingga akhir saya sukses untuk tidak tergoda. Namun sesaat sebelum beranjak pulang, tiba-tiba hati saya jadi tidak enak. Saya merasa ada sesuatu yang terjadi dengan status yang saya update tadi malam. Saat saya buka, notifikasi di FB tiba-tiba banyak, tumben! Ah... paling permintaan main game seperti biasa, tebak saya asal. Namun betapa tersangak bin tersanggeng alias ter-pelongo saya melihat sebuah link artikel web iloveAceh dengan judul Gerakan "Learning TOEFL for Free" Muncul di Banda Aceh  memampangkan sebuah foto yang sepertinya saya kenal!  Apaaaaa??!!??

  


Kembali "Iseng"

What ? What? What? Apa ini? Siapa yang? Waduh, bagaimana ini? Hanya itu kata yang saya lontarkan dalam hati. Seketika saya kebanjiran komen, like dan re-twit dari teman-teman sejawad yang memberitakan hal ini kepada saya. Panik namun senang. Panik karena artikel ini meluas ketika saya sendiri tak sadar, senang karena ternyata masih banyak sahabat-sahabat yang mau peduli dan berkeinginan untuk berbagi. Maka lagi-lagi tanpa basa basi dan berpikir panjang lebar, dengan spontan dan waktu yang sudah mepet hendak pulang, berhubung udah keroncongan karena ingin makan siang. Tepat pada siang hari tanggal 13 Januari 2014, sebuah fans page Learning TOEFL for Free berhasil saya buat dan langsung mendapatkan respon positif dari teman-teman. Thanks ya!
 

Senin, 21 Oktober 2013

Sarapan "Super" Ala Ummi!


Ummi adalah panggilan yang kuberikan untuk sosok wanita penyayang yang telah melahirkanku serta mengasuhku sejak kecil. Perawakan Ummi yang penyabar dan sangat friendly dalam kesehariannya tidak akan pernah aku temukan di pagi hari, khususnya saat sarapan pagi. Sikap toleransi Ummi yang tinggi pada berbagai hal dan kepentingan sama sekali tidak berlaku jika aku menolak, dengan cara apapun--- berlari ke sana ke mari, merengek, berguling-guling, dan mempraktekkan seluruh jurus dan tingkah polah konyol  khas anak-anak guna membuat hati Ummi iba, untuk sekedar membiarkaku bolos sarapan pagi walau hanya sekali. Namun siapa sangka hal tersebut seakan tidak ada gunanya. Seperti biasa, Ummi bergeming tanpa reaksi sampai aku setuju untuk sarapan pagi.

Semasa kanak-kanak, entah itu normal atau tidak, sarapan pagi merupakan salah satu musuh terbesarku. Namun lain lagi bagi Ummi, sarapan pagi merupakan hal yang selalu dinanti, terkontrol dan tak pernah dibiarkannya bolong walau hanya sekali. Seribu satu jurus dikerahkan Ummi untuk mensiasasi si kecil yang kurus kering kekurangan gizi karena sangking malasnya sarapan pagi. 

Namun tak ada kata menyerah bagi Ummi. Si kecil tak mau makan, maka berbagai jurus andalan Ummi kerahkan. Jurus sarapan pagi ala Ummi beraneka ragam rupanya--- dari cara memasak berbagai masakan lezat menggoda iman, membentuk nasi dan lauk dalam jelmaan unik dan menarik sampai pada tingkat terkritis yakni kejar-kejaran ala pendekar di televisi dan sulangan kanan-kiri bak jurus sakti. Demikianlah, Ummi.

Seiring waktu berganti, siapa sangka, kebiasaan yang diterapkan Ummi sejak kecil berdampak besar kala aku beranjak dewasa. Jurus sulang menyulang membuatku ketagihan. Kini bagiku sarapan pagi menjadi kebutuhan. Bagaimana tidak, sarapan pagi ternyata mempengaruhi kecerdasan, pertumbuhan dan kesehatan bagi seorang anak. Saat aku mulai sadar akan pentingnya peranan tersebut, saat ini, aku menjadi tak heran mengingat sikap Ummi yang dulunya menurutku terlalu aneh dan berambisi.

Dahulu Ummi  kerap mendendangkan pepatah Aceh zaman bahelak ketika aku terus merajuk untuk tak sarapan. Begini katanya: "Bu bengoh keu ubat, bu cot uroe keu kuat, bue seupot keusehat." Jika diartikan kira-kira bunyinya seperti ini "sarapan pagi sebagai obat, makan siang agar kuat, dan makan malam agar sehat berisi." 

Benar saja, saat ini aku kerap melihat teman-temanku yang mengalami permasalahan lambung sejak usia dini, penyebabnya kebanyakan karena mereka malas sarapan pagi. Namun hal itu sama sekali tak pernah aku alami. Ummi tak pernah mengizinkan aku pergi sampai ritual sarapan pagi telah aku jalani. Alhasil, tak heran, sejak kecil stamina dan imunitasku cukup baik sehingga aku jarang sakit. Guru-guru TK dan SD-ku dulu kerap bercerita bahwa waktu kecil aku terkenal cukup enerjik dan bawel di sekolah. Bisa jadi, rasa ingin tahu yang besar dan  rasa percaya diri yang cukup tinggi yang aku rasakan saat ini juga merupakan salah satu efek positif dari  kebiasaan sarapan pagi, siapa tahu.

Intinya, saat ini, aku membayangkan andai saja bukan karena pembiasaan dan didikan Ummi tentang pola makan yang baik sejak aku kecil dulu, mungkin saja aku tidak bisa seaktif dan sekuat ini. Peranan Ummi dalam rangka menyukseskan buah hatinya yang super moody untuk sekedar sarapan pagi dapat dikatakan mutlak sukses. Aku tumbuh sehat, kuat, berani dan penuh prestasi. Ya, semua itu berkat usaha Ummi. Kalau bukan Ummi siapa lagi? Sayang Ummi!    

Sabtu, 04 Mei 2013

Akhirnya Hadiahnya Sampai Juga!


Kamis,02052013

Nah... ceritanya sekitar seminggu yang lalu, panitia lomba IPPNU mengabarkan via FB kalau hadiah lomba puisi sudah dikirimkan! Yeyyyy!!! Wah, penasaran apa dan bagaimana bentuknya. Secara, jangankan tahu hadiahnya apa, saya saja sempat lupa pernah mengikuti lomba ini. 

Pasalnya, ketika saya mengikuti sesuatu perlombaan, keseringannya iseng-iseng, only for having fun. Namun, lagi-lagi dengan rahmat Allah, karya saya terpilih dalam perlombaan. Anehnya, giliran serius mengikuti lomba, sering tidak terpilih. Hmmm... kadang sempat terpikir, mungkin saya tergolong tipikal orang yang tidak mampu berkarya di bawah tekanan.  Waduh, yang penting tetap berkarya. Mau dalam keadaan tertekan, ngambang, melayang, yang penting HASILnya bung!







Jumat, 19 April 2013

Misteri_us!

Warnanya keabu-abuan
Namun tak berarti kusam
Hawanya dingin
Juga panas

Tenang dan sejuk
Namun juga gaduh dan gersang

Riakannya kecil 
Namun dalam
Lebar dan dangkal
Terlihat tetapi samar

On Thursday, January 6, 2011 at 2:17pm

Pages